Wednesday, April 30, 2014

Musik dan Joget Indonesia

Musik merupakan salah satu karya seni yang menggambarkan kebudayaan masyarakat. Di dalam musik terkandung nilai dan norma-norma yang menjadi bagian dari proses enkulturasi budaya, baik dalam bentuk formal maupun informal. Suara musik yang baik adalah hasil interaksi dari tiga elemen, yaitu: irama, melodi, dan harmoni. Musik adalah bunyi yang diatur menjadi sebuah pola yang tersusun dari bunyi atau suara dan keadaan diam (sounds and silences) dalam alur waktu dan ruang tertentu dalam urutan, kombinasi, dan hubungan temporal yang berkesinambungan sehingga mengandung ritme, melodi, warna bunyi,  dan keharmonisan yang biasanya dihasilkan oleh alat musik atau suara manusia yang dapat menyenangkan  telinga dan mengekspresikan ide, perasaan, emosi atau suasana hati. Mendengar musik pula adalah sejenis hiburan.
Perkembangan musik Indonesia memang sangat dinamis terutama di akhir tahun 2000-an. Pada era sebelum 70an, musik yang berkembang di Indonesia bertema perjuangan, keberanian, semangat, dan kebangsaan. Tema-tema itu berkaitan dengan kondisi Indonesia disaat penjajahan oleh bangsa lain. Misalnya lagu-lagu Nasional, Bandung lautan Api, Maju Tak Gentar, Padamu Negeri, dan lain sebaigainya. Dan pada era tahun 70-an, muncullah musisi Koes Plus yang dijuluki sebagai The Beatlles-nya Indonesia. Tema lagu mereka yaitu percintaan dan kancah peperangan. Pada era tahun 80-an, jenis lagu yang mendominasi adalah lagu pop yang mendayu-dayu, bertempo lambat dan cenderung berkesan cengeng. Namun pada era 90-an, aliran musik yang cengeng mulai surut dan musik pop Indonesia seperti kehilangan arah. Dampak positifnya musik dangdut menjadi lebih hidup dan meriah. Bahkan banyak dari para penyanyi yang tadinya beraliran pop dan rock beralih ke dangdut dan kemudian tercipta jenis musik baru yaitu pop dangdut. Kejayaan penyanyi solo pada era tahun 2000-an tak secemerlang seperti pada era 90-an. Pada era ini selera masyarakat lebih ke grup-grup seperti; Peterpan, Ungu, Dewa, dan lain-lain. Nama-nama yang masih bertahan hanya beberap gelintir, semisal; Krisdayanti, Chrisye, Titi Dj, dan Glen Fredly. Sedangkan perkembangan musik hingga tahun 2014 ini sangat bervariasi. Dua tahun yang lalu banyak bermunculan boy band dan girl band, hingga mengalahkan eksistensi aliran musik yang lainnya. Kekalahan itu bukan berarti aliran musik lainnya tidak tampak dan eksistensi boy band dan girl band tak bertahan lama. Aliran pop, dangdut, rock, jazz, akustik masih berkembang di Indonesia.
Misalkan musik dangdut yang memiliki pendengar yang sangat bervariatif, mulai dari kalangan anak-anak hinnga kalangan orang tua. Semuanya sering menikmati aliran musik dangdut yang enak didengar. Seperti ketika mereka menaiki sebuah bus, maka didalamnya ada tayangan musik dangdut. Dangdut merupakan salah satu seni musik Indonesia yang memiliki unsur Melayu dan Arab. Dahulu dangdut menggunakan alat musik utama yaitu tabla yang berasal dari India dan Pakistan (khususnya Asia Selatan), kemudian berkembang di Indonesia yang berakar dari pedagang Gujarat yang menyebarkan ajaran Islam pada zaman itu.
Sekitar tahun 1968, Rhoma Irama adalah musisi yang paling eksis. Rhoma Irama menjadikan dangdut sebagai alat berdakwahnya, yang terlihat dari lirik-lirik lagu ciptaannya serta dari pernyataan yang dikeluarkannya sendiri. Sejak tahun 1970-an dangdut boleh dikatakan telah matang dalam bentuknya yang kontemporer. Dikatakan kontemporer karena musik dangdut telah dilengkapi dengan alat-alat yang modern, seperti gitar listrik. Namun tidak menghilangkan ciri khas alat musik dangdut, yaitu gendang, suling, dll.  Sebagai musik populer, dangdut sangat terbuka terhadap pengaruh bentuk musik lain, mulai dari keroncong, langgam, degung, gambus, rock, pop, bahkan house music.
Seiring berkembangnya zaman, musik dangdut diwarnai dengan beberapa penyanyi yang kontroversional. Sebut saja Inul Daratista, ia memiliki goyang ngebor yang mengundang perdebatan. Banyak orang yang berpendaat bahwa goyangan ngebor itu merusak moral masyarakat. Akibat gaya panggung yang dinilai terlalu terbuka dan berselera rendah itu, dangdut dikatakan sebagai musik yang membawa aspirasi masyarakat kalangan bawah dengan segala kesederhanaan dan kelugasannya. Ciri khas ini tercermin dari lirik serta bangunan lagunya. Gaya pentas yang sensasional tidak terlepas dari napas ini.
Goyang atau joget memang tidak dapat dipisahkan dari pementasan musik dangdut. Sampai ada sebuah lirik yang berbunyi “dangdut tak goyang bagai sayur tanpa garam”. Namun goyangan itu tidak harus seronok, ada juga goyangan yang enak dilakukan tanpa menggundang kontroversi. Buktinya pada zaman dahulu tidak muncul permasalahan saat pementasan musik dangdut.
Joget adalah menggoyangkan sebagian anggota badan dengan mengikuti irama musik yang didengar. Jagat musik Indonesia kini tengah dihebohkan dengan fenomena macam-macam goyangan. Seperti joget cesar ala Caisar dan joget oplosan ala Soimah.
Goyang Cesar yang dipopulerkan oleh Caisar Adhitya Putra. Gerakan tari yang diiringi lagu Buka Sithik Joss ini sederhana dan mudah diikuti bahkan oleh Anda yang tidak mempunyai latar belakang seorang penari. Berawal dari pementasan goyang cesar di acara YKS (Yuk Kita Sahur), goyang cesar diminati masyarakat karena sifatnya yang menghibur. Awalnya menghibur, ternyata tak lama kemudian goyang tersebut memunculkan perdebatan. Bagi para pecinta senam, goyang cesar membawa damak positif. Gerakannya memang sangat energik, tidak ada anggota badan yang tidak gerak, dari kepala, bahu, tangan, kaki sampai ke dada ikut di gerakkan. Kenyataan itu masih dalam katagori hal yang wajar karena biasanya senam hanya dilakukan oleh para olahragawan yang bertujuan untuk olahraga dan di sebuah ruangan khusus. Selain sebagai gerakan senam, goyang cesar tidak banyak bermanfaat dibandingkan efek buruk yang dibawanya.
Misalnya fenomena seorang ibu, gadis muda, berpakaian gamis, dan memakai kerudung, bergoyang bersama sama di acara televisi atas nama goyang Cesar. Mereka berhijab dan melakukan goyang cesar itu, sehingga menimbulkan pandangan goyang itu tidak indah, tidak bagus, dan tidak menambah apapun. Kecuali yang tampak hanya sebagai manusia yang rela berjoget untuk sesuatu yang tidak jelas. Goyangan ini mengajarkan orang untuk bertindak di luar urat malu mereka. Tidak peduli apa kata orang, yang penting asyik dan bisa joget sepuasnya dengan ritme yang tidak jelas. Dapat dikatakan mereka tidak menghormati simbol simbol agama. Kerudung, gamis, peci dan yang lain itu juga simbol. Ketika orang memakai itu, setidaknya mereka paham bagaimana menjaga sikap dan perbuatan.
Lebih parahnya lagi, di daerah Bandar Lampung, sejumlah siswa sekolah dasar mempraktikan goyangan cesar sambil membuka ritsleting di depan kelas. Mereka membuka sambil berteriak “buka titik jos”. Peristiwa tersebut membuat para orang tua dan pendidik merasa cemas. Padahal sekolah adalah lingkungan yang berpengaruh pada perkembangan anak. Disitulah anak-anak dapat belajar, bermain, dan bersosialisasi dengan teman sebayanya. Mereka dapat saling bertukar informasi dan melakukan hal-hal yang baru mereka ketahui tanpa memikirkan dampaknya.

Melihat fenomena yang telah terjadi, itu merupakan masalah yang sangat besar bagi bangsa Indonesia. Karena rusaknya moral bangsa, bukan hanya moral generasi penerus namun sekali lagi rusaknya moral bangsa. Sehingga dapat disimpulkan bahwa goyangan cesar membawa dampak buruk bagi moral bangsa Indonesia. Menanggapi hal tersebut, masyarakat harus dapat mengatasi dengan arif. Tidak perlu menyalahkan salah satu pihak, namun semua pihak bersama-sama memperbaiki. Orang tua selaku pendidik sebaiknya lebih intensif dalam pengawasan anaknya. Pihak penyiar televisi juga sebaiknya memilih acara-acara yang patut disajikan untuk bangsa Indonesia. Para entertainer juga diharapkan menyajikan hiburan yang mengandung nilai (bermutu), tidak hanya sekedar menghibur.

No comments:

Post a Comment