Musik merupakan salah
satu karya seni yang menggambarkan kebudayaan masyarakat. Di dalam musik
terkandung nilai dan norma-norma yang menjadi bagian dari proses enkulturasi
budaya, baik dalam bentuk formal maupun informal. Suara musik yang baik adalah
hasil interaksi dari tiga elemen, yaitu: irama, melodi, dan harmoni. Musik
adalah bunyi yang diatur menjadi sebuah pola yang tersusun dari bunyi atau
suara dan keadaan diam (sounds and silences) dalam alur waktu dan ruang
tertentu dalam urutan, kombinasi, dan hubungan temporal yang berkesinambungan
sehingga mengandung ritme, melodi, warna bunyi,
dan keharmonisan yang biasanya dihasilkan oleh alat musik atau suara
manusia yang dapat menyenangkan telinga dan
mengekspresikan ide, perasaan, emosi atau suasana hati. Mendengar
musik pula adalah sejenis hiburan.
Perkembangan musik
Indonesia memang sangat dinamis terutama di akhir tahun 2000-an. Pada era
sebelum 70an, musik yang berkembang di Indonesia bertema perjuangan, keberanian,
semangat, dan kebangsaan. Tema-tema itu berkaitan dengan kondisi Indonesia
disaat penjajahan oleh bangsa lain. Misalnya lagu-lagu Nasional, Bandung lautan
Api, Maju Tak Gentar, Padamu Negeri, dan lain sebaigainya. Dan pada era tahun
70-an, muncullah musisi Koes Plus yang dijuluki sebagai The Beatlles-nya
Indonesia. Tema lagu mereka yaitu percintaan dan kancah peperangan. Pada era
tahun 80-an, jenis lagu yang mendominasi adalah lagu pop yang mendayu-dayu,
bertempo lambat dan cenderung berkesan cengeng. Namun pada era 90-an, aliran
musik yang cengeng mulai surut dan musik pop Indonesia seperti kehilangan arah.
Dampak positifnya musik dangdut menjadi lebih hidup dan meriah. Bahkan banyak
dari para penyanyi yang tadinya beraliran pop dan rock beralih ke dangdut dan
kemudian tercipta jenis musik baru yaitu pop dangdut. Kejayaan penyanyi solo
pada era tahun 2000-an tak secemerlang seperti pada era 90-an. Pada era ini selera
masyarakat lebih ke grup-grup seperti; Peterpan, Ungu, Dewa, dan lain-lain. Nama-nama
yang masih bertahan hanya beberap gelintir, semisal; Krisdayanti, Chrisye, Titi
Dj, dan Glen Fredly. Sedangkan perkembangan musik hingga tahun 2014 ini sangat
bervariasi. Dua tahun yang lalu banyak bermunculan boy band dan girl band,
hingga mengalahkan eksistensi aliran musik yang lainnya. Kekalahan itu bukan
berarti aliran musik lainnya tidak tampak dan eksistensi boy band dan girl band
tak bertahan lama. Aliran pop, dangdut, rock, jazz, akustik masih berkembang di
Indonesia.
Misalkan musik dangdut yang
memiliki pendengar yang sangat bervariatif, mulai dari kalangan anak-anak
hinnga kalangan orang tua. Semuanya sering menikmati aliran musik dangdut yang
enak didengar. Seperti ketika mereka menaiki sebuah bus, maka didalamnya ada
tayangan musik dangdut. Dangdut merupakan salah satu seni musik Indonesia yang
memiliki unsur Melayu dan Arab. Dahulu dangdut menggunakan alat musik utama
yaitu tabla yang berasal dari India dan Pakistan (khususnya Asia Selatan),
kemudian berkembang di Indonesia yang berakar dari pedagang Gujarat yang
menyebarkan ajaran Islam pada zaman itu.
Sekitar tahun 1968,
Rhoma Irama adalah musisi yang paling eksis. Rhoma Irama menjadikan dangdut sebagai alat berdakwahnya,
yang terlihat dari lirik-lirik lagu ciptaannya serta dari pernyataan yang
dikeluarkannya sendiri. Sejak tahun 1970-an dangdut boleh
dikatakan telah matang dalam bentuknya yang kontemporer. Dikatakan kontemporer
karena musik dangdut telah dilengkapi dengan alat-alat yang modern, seperti
gitar listrik. Namun tidak menghilangkan ciri khas alat musik dangdut, yaitu
gendang, suling, dll. Sebagai musik
populer, dangdut sangat terbuka terhadap pengaruh bentuk musik lain, mulai dari
keroncong, langgam, degung, gambus, rock, pop, bahkan house music.
Seiring
berkembangnya zaman, musik dangdut diwarnai dengan beberapa penyanyi yang
kontroversional. Sebut saja Inul Daratista, ia memiliki goyang ngebor yang
mengundang perdebatan. Banyak orang yang berpendaat bahwa goyangan ngebor itu
merusak moral masyarakat. Akibat gaya panggung yang dinilai terlalu terbuka dan
berselera rendah itu, dangdut dikatakan sebagai musik yang membawa aspirasi
masyarakat kalangan bawah dengan segala kesederhanaan dan kelugasannya. Ciri khas ini tercermin dari lirik
serta bangunan lagunya. Gaya pentas yang sensasional tidak terlepas dari napas
ini.
Goyang atau joget memang tidak dapat
dipisahkan dari pementasan musik dangdut. Sampai ada sebuah lirik yang berbunyi
“dangdut tak goyang bagai sayur tanpa garam”. Namun goyangan itu tidak harus
seronok, ada juga goyangan yang enak dilakukan tanpa menggundang kontroversi.
Buktinya pada zaman dahulu tidak muncul permasalahan saat pementasan musik
dangdut.
Joget adalah menggoyangkan sebagian
anggota badan dengan mengikuti irama musik yang didengar. Jagat musik
Indonesia kini tengah dihebohkan dengan fenomena macam-macam goyangan. Seperti joget cesar ala Caisar dan
joget oplosan ala Soimah.
Goyang Cesar yang
dipopulerkan oleh Caisar Adhitya Putra. Gerakan tari yang
diiringi lagu Buka Sithik Joss ini sederhana dan mudah diikuti bahkan oleh Anda
yang tidak mempunyai latar belakang seorang penari. Berawal dari pementasan
goyang cesar di acara YKS (Yuk Kita Sahur), goyang cesar diminati masyarakat
karena sifatnya yang menghibur. Awalnya menghibur, ternyata tak lama kemudian
goyang tersebut memunculkan perdebatan. Bagi para pecinta senam, goyang cesar
membawa damak positif. Gerakannya memang sangat energik, tidak
ada anggota badan yang tidak gerak, dari kepala, bahu, tangan, kaki sampai ke
dada ikut di gerakkan. Kenyataan itu masih dalam katagori hal yang wajar karena
biasanya senam hanya dilakukan oleh para olahragawan yang bertujuan untuk
olahraga dan di sebuah ruangan khusus. Selain sebagai gerakan senam, goyang cesar tidak banyak
bermanfaat dibandingkan efek buruk yang dibawanya.
Misalnya fenomena seorang
ibu, gadis muda, berpakaian gamis, dan memakai kerudung, bergoyang bersama sama
di acara televisi atas nama goyang Cesar. Mereka berhijab dan melakukan goyang
cesar itu, sehingga menimbulkan pandangan goyang itu tidak indah, tidak bagus,
dan tidak menambah apapun. Kecuali yang tampak hanya sebagai manusia yang rela
berjoget untuk sesuatu yang tidak jelas. Goyangan ini mengajarkan orang untuk
bertindak di luar urat malu mereka. Tidak peduli apa kata orang, yang penting
asyik dan bisa joget sepuasnya dengan ritme yang tidak jelas. Dapat dikatakan mereka
tidak menghormati simbol simbol agama. Kerudung, gamis, peci dan yang lain itu
juga simbol. Ketika orang memakai itu, setidaknya mereka paham bagaimana
menjaga sikap dan perbuatan.
Lebih
parahnya lagi, di daerah Bandar Lampung, sejumlah siswa sekolah dasar
mempraktikan goyangan cesar sambil membuka ritsleting di depan kelas. Mereka
membuka sambil berteriak “buka titik jos”. Peristiwa tersebut membuat para
orang tua dan pendidik merasa cemas. Padahal sekolah adalah lingkungan yang berpengaruh
pada perkembangan anak. Disitulah anak-anak dapat belajar, bermain, dan
bersosialisasi dengan teman sebayanya. Mereka dapat saling bertukar informasi
dan melakukan hal-hal yang baru mereka ketahui tanpa memikirkan dampaknya.
Melihat
fenomena yang telah terjadi, itu merupakan masalah yang sangat besar bagi
bangsa Indonesia. Karena rusaknya moral bangsa, bukan hanya moral generasi
penerus namun sekali lagi rusaknya moral bangsa. Sehingga dapat disimpulkan
bahwa goyangan cesar membawa dampak buruk bagi moral bangsa Indonesia.
Menanggapi hal tersebut, masyarakat harus dapat mengatasi dengan arif. Tidak
perlu menyalahkan salah satu pihak, namun semua pihak bersama-sama memperbaiki.
Orang tua selaku pendidik sebaiknya lebih intensif dalam pengawasan anaknya. Pihak
penyiar televisi juga sebaiknya memilih acara-acara yang patut disajikan untuk
bangsa Indonesia. Para entertainer juga diharapkan menyajikan hiburan yang mengandung
nilai (bermutu), tidak hanya sekedar menghibur.